Program Smart Detox
Daftar Synergy WGabung bersama bisnis Synergy WorldWide

Menentukan Model Bisnis atau Usaha yang Tepat

Katakanlah Anda ingin memulai sebuah bisnis. Model bisnis atau usaha apa yang akan Anda gunakan? Jika belum mampu menjawabnya, mungkin usaha Anda belum memiliki konsep bisnis yang jelas. Oleh karenanya baca artikel ini hingga selesai agar bisa memilih konsep atau model bisnis atau usaha yang sesuai.

Model Bisnis atau Usaha

Apa itu Model Bisnis?

Menentukan model bisnis yang tepat sangat penting supaya bisnis bisa terus berkembang. Dan hampir semua perusahaan besar di dunia meraih sukses karena memilih model yang tepat untuk bisnis mereka.

Lalu, apa sebenarnya model bisnis atau usaha itu? Model usaha atau bisnis yaitu suatu konsep dasar mengenai bagaimana bisnis akan dijalankan, baik secara internal ataupun eksternal.

Berikut penjelasannya :

  1. Secara internal,model bisnis menentukan bagaimana organisasi bisnis akan dibangun supaya usaha yang dijalankan bisa terus tumbuh dengan baik.
  2. Secara eksternal, model bisnis dapat membantu untuk menentukan :
  • nilai (value) apa yang ditawarkan kepada konsumen, dan
  • bagaimana cara mendapatkan laba dari usaha yang dijalankan.

Model bisnis bukan hanya suatu rencana bisnis yang mencatat visi dan misi saja. Tapi model bisnis juga bisa membantu Anda menciptakan cara memperoleh profit.

Dengan menentukan model bisnis yang tepat, usaha / bisnis yang Anda bangun akan punya tujuan yang jelas. Yaitu Anda jadi tahu :

  • siapa saja konsumen yang jadi target pasar Anda, dan
  • bagaimana business process perlu dilakukan.

Untuk bisa membangun suatu model bisnis atau usaha yang baik, Anda harus menjawab beberapa pertanyaan utama, yakni :

  • Jenis produk apa yang akan dihasilkan?
  • Apakah ketersediaan bahan baku dan tenaga kerja bisa terpenuhi dengan baik?
  • Bagaimana strategi promosi dan distribusinya supaya produk bisa menjangkau konsumen dengan baik?
  • Apa strategi harga yang mau dipakai?
  • Cara pembayaran apa yang mau dipakai?

Semua pertanyaan di atas sering dijawab memakai kanvas model bisnis yang terdiri dari 9 komponen model bisnis yakni :

  1. Value proposition : manfaat yang akan diterima oleh konsumen dari bisnis Anda.
  2. Customer segmentation : target pasar dari produk yang akan Anda tawarkan.
  3. Channel : media yang Anda pakai untuk menjangkau konsumen.
  4. Customer relationship : cara Anda menjaga hubungan yang baik dengan konsumen.
  5. Revenue streams : sumber penghasilan bagi usaha Anda.
  6. Key resources : sumber daya yang Anda butuhkan supaya bisnis bisa berjalan.
  7. Key activities : semua aktivitas bisnis yang Anda lakukan.
  8. Partnership : rekan kerja yang membantu bisnis Anda berjalan.
  9. Cost structure : pengeluaran dari aktivitas bisnis yang Anda lakukan.
Manfaat Model Bisnis

Setelah mengetahui apa itu model bisnis atau usaha, Anda pun perlu memahami berbagai manfaat ketika menggunakannya.

1. Mengetahui Target Pasar bagi Penjualan Produk

Model bisnis menuntun Anda untuk menentukan value proposition. Komponen ini akan membantu mengetahui bagaimana produk Anda bisa jadi solusi bagi permasalahan pelanggan.

Selanjutnya, Anda dapat melakukan segmentasi pelanggan yang lebih spesifik. Semakin jelas model bisnis, maka semakin mudah tahu target pasar yang harus Anda tuju.

Baca Juga : Pentingnya Menentukan Target Pasar Bisnis

Menentukan Target Pasar

2. Memahami Produk yang Harus Diciptakan

Dengan memakai model bisnis yang jelas, Anda tidak perlu lagi terjebak pada penciptaan produk yang tak dibutuhkan konsumen. Hal tersebut tentu tak memberikan manfaat untuk perkembangan bisnis Anda.

Selain itu, semakin jelas target pasar dan value proposition produk Anda, maka semakin jelas jenis produk apa yang harus dihasilkan.

3. Mengetahui Strategi Bisnis yang Harus Dijalankan

Model bisnis atau usaha yang Anda pilih akan secara otomatis turut menentukan strategi bisnis yang harus dijalankan.

Misalnya, bila Anda seorang distributor, maka strategi Anda bukanlah cara menarik konsumen. Tapi, cara menjalin hubungan ke lebih banyak produsen secara dekat.

Selain itu, Anda harus bisa bekerja sama dengan banyak retailer. Dan bisa menciptakan jalur distribusi yang cepat dan efektif.

Baca Juga : Strategi Bisnis untuk Kesuksesan Anda

4. Mengantisipasi Persaingan

Tanpa memakai model bisnis, akan susah menentukan posisi bisnis Anda di pasar. Hasilnya, bisa saja Anda perlu menghadapi persaingan yang belum diperhitungkan.

Dengan memakai model bisnis, Anda pun bisa memahami persaingan Anda dalam memperoleh resources dan menjual produk ke konsumen. Hal ini sangat penting untuk dapat menentukan strategi bisnis yang tepat berdasarkan model yang Anda pilih.

Model Bisnis

Ada banyak jenis model yang dapat Anda terapkan sesuai dengan bisnis Anda. Berikut pembagian model bisnis atau usaha yang dapat Anda pakai :

a. Berdasarkan Produksinya

Ini dia beberapa jenis model bisnis atau usaha berdasarkan kegiatan produksinya :

1. Manufaktur

Dalam model bisnis ini, Anda membuat sebuah produk dan menjualnya untuk memperoleh keuntungan / laba. Biasanya produksi barang dilakukan dengan memakai mesin produksi.

Saat menjalankan bisnis manufaktur, Anda dapat menjual barang secara langsung ke konsumen atau memakai perantara pihak ketiga.

Contoh perusahaan yang menjalankan penjualan langsung yaitu Nike dan Apple. Kedua perusahaan ini punya pabrik untuk menciptakan produk dan toko untuk menjual produknya sendiri, contohnya Apple Retail Store.

Di sisi lain, Intel sebagai produsen prosesor komputer lebih sering menjual produk secara tak langsung ke konsumen. Biasanya, konsumen tak membeli produk Intel secara langsung. Namun lewat sebuah produk laptop yang terdapat prosesor Intel di dalamnya.

Tantangan yang mungkin Anda hadapi ini yaitu kemampuan untuk terus memperoleh resources (bahan baku) supaya produksi berjalan lancar.

2. Distributor

Sesuai namanya, distributor yaitu model bisnis atau usaha yang aktivitas utamanya merupakan mendistribusikan produk. Artinya, mereka tak memproduksi sendiri barang yang dijual.

Kunci utama bisnis ini yaitu kemampuan menjalin kerjasama dengan perusahaan manufaktur supaya dapat mendistribusikan produk. Sebagaian distributor ada yang bekerja sama dengan banyak supplier sekaligus. Ada pula yang khusus jadi distributor resmi suatu produk.

Contoh perusahaan distributor di Indonesia yaitu PT TAM yang bergerak pada distribusi ponsel. Perusahaan distributor ini adalah mitra dari berbagai perusahaan handphone seperti :

  • Samsung,
  • Xiaomi, dan
  • Blackberry yang pernah booming di Indonesia.

Jadi, Anda tak menjual produk secara langsung ke konsumen. Sebagai distributor, Anda menjual produk lewat satuan bisnis yang lebih kecil lagi atau disebut retailer.

3. Retailer

Retailer merupakan model bisnis yang beli produk dari distributor dan menjualnya kembali ke konsumen. Bisa dikatakan retailer yaitu penghubung antara produsen (manufaktur) dan konsumen.

Model bisnis retail dapat Anda terapkan pada bisnis dengan skala kecil menengah ataupun besar. Mulai dari toko yang Anda jalankan dari rumah sampai perusahaan ritel besar seperti :

  • Indomaret,
  • Alfamart,
  • Trikomsel Oke,
  • dan lainnya.

Retailer dapat menyasar pada segmentasi konsumen yang umum atau khusus. Contohnya, Trikomsel Oke yang berfokus ke konsumen yang punya kebutuhan gadget untuk komunikasi.

Bila Anda mau jadi retailer, pastikan ketersediaan resource seperti gudang terjamin dengan baik. Bila tak demikian, aktivitas bisnis bisa terganggu.

4. Franchise

Model bisnis atau usaha ini lebih dikenal dengan istilah waralaba. Konsepnya saat mau memulai bisnis, seseorang tak perlu membuat bisnis sendiri dari awal.

Tapi, cukup memakai model yang sudah ada dari brand tertentu. Kemudian membayar uang kompensasi kerjasama yang dilakukan tersebut. Pihak yang punya bisnis dengan brand disebut franchisor dan yang memakai brand bisnis dinamakan franchisee.

Salah satu contoh bisnis franchise adalah Mc Donalds.

Bagi pebisnis pemula, memakai franchise memang lebih mudah. Sebab tinggal menjalankan usaha atau bisnis saja. Semua komponen usaha / bisnis telah ditentukan dengan jelas oleh pihak franchisor.

Tapi, Anda harus cermat dalam memilih franchisor yang menguntungkan. Di sisi lain, Anda pun dapat menciptakan sebuah bisnis franchise Anda sendiri.

Salah satu contohnya yaitu bisnis farmasi Apotek K24. Anda dapat memulainya dengan membuka bisnis yang bisa menarik konsumen. Kemudian setelah berkembang, Anda dapat menawarkan kerjasama franchise kepada pihak lain.

5. White Label

Model bisnis ini hampir mirip dengan franchise. Bedanya, pada white labeling, Anda bebas untuk memakai brand sendiri.

Biasanya, perusahaan yang menawarkan model bisnis ini akan menjual produknya hanya atau khusus ke reseller. Jadi, bukan pada konsumen akhir. Lalu mengapa ada pebisnis yang melakukan white labeling?

Alasannya, pebisnis tersebut dapat lebih fokus pada produksi tanpa memikirkan metode pemasaran yang harus dilakukan. Di sisi lain, konsumen white labeling dapat menjual produk kualitas terbaik tanpa repot melakukan produksi sendiri.

Bisnis ini dapat diterapkan pada berbagai jenis produk seperti :

  • fashion,
  • kerajinan tangan,
  • dan lainnya.

Contoh perusahaan besar yang memakai White Label adalah Foxconn. Di mana perusahaan ini merupakan perusahaan yang membuat produk elektronik ke berbagai distributor seperti Apple.

Baca juga : Ide Bisnis Setelah Pandemi Corona

b. Berdasarkan Fisiknya

Dilihat dari bentuk fisiknya, inilah beberapa model bisnis atau usaha yang bisa Anda temui:

1. Brick and Mortar

Inilah model bisnis tradisional yang menjual produk lewat toko fisik. Artinya, transaksi dilakukan ke konsumen akhir secara tatap muka langsung (face to face). Brick and Mortar ini dapat dipakai oleh :

  • produsen,
  • distributor,
  • dan lainnya.

Contoh dari model bisnis atau usaha ini adalah :

  • toko kelontong,
  • SPBU,
  • dan lainnya.

Model bisnis ini sudah dikenal oleh masyarakat. Sehingga model bisnis ini relatif banyak dipakai. Pada praktiknya, ada beberapa hal yang jadi pertimbangan utama dalam memakai model bisnis ini yakni :

  • kualitas produk,
  • layanan,
  • lokasi usaha, dan
  • harga.

Tantangan dari bisnis ini yaitu munculnya bisnis online yang dapat dilakukan tanpa batasan waktu operasional dan lokasi usaha.

2. eCommerce

eCommerce atau electronic commerce yaitu sebuah bisnis di mana penjual dan pembeli melakukan transaksi secara online. Dengan kata lain ecommerce merupakan model bisnis atau usaha toko online.

Model bisnis ini yaitu perkembangan dari brick and mortar yang muncul seiring kemudahan akses internet. Bila brick and mortar punya wujud fisik baik toko ataupun gudang, eCommerce memakai pendekatan digital.

Untuk toko misalnya, Anda dapat memakai website toko online yang memajang semua produk yang dijual. Bahkan, bila produk yang Anda jual yaitu produk digital, Anda tidak lagi memerlukan gudang sebagai tempat penyimpanan.

Saat ini banyak sekali jenis bisnis yang memakai pendekatan eCommerce, seperti :

  • Rabbani di bidang fashion, dan
  • Gramedia Online yang menjual buku digital.

Bisa dikatakan ecommerce adalah salah satu jenis bisnis paling menjanjikan saat ini.

Baca Juga : Membuat Toko Online dengan Mudah

3. Bricks and Clicks

Model bisnis atau usaha ini sebenarnya gabungan dari mortar and bricks dan ecommerce. Bricks and clicks merupakan suatu model bisnis yang punya toko offline dan toko online secara bersamaan.

Salah satu yang mendasari model bisnis ini lahir yaitu keinginan untuk menyediakan kemudahan belanja online bagi konsumen. Selain itu juga sekaligus tetap mempertahankan konsep belanja offline yang sudah biasa dilakukan.

Beberapa yang menerapkan model bisnis ini yaitu bisnis :

  • fashion,
  • penjualan obat,
  • dan lainnya.

4. Marketplace

Marketplace merupakan suatu model bisnis atau usaha yang memfasilitasi bertemunya penjual dan pembeli secara online. Yaitu dengan memakai website atau platform khusus milik pihak ketiga.

Beberapa contoh marketplace di Indonesia adalah :

  • Tokopedia,
  • Bukalapak,
  • dll.

Marketplace biasanya punya banyak penjual yang tergabung dalam satu platform dan menawarkan produk yang hampir sama. Secara umum, marketplace akan dapat keuntungan dari komisi untuk tiap transaksi yang dilakukan.

Di sisi lain, bila Anda mau berjualan memakai marketplace, cukup memilih platform yang mau diikuti dan melakukan registrasi. Meskipun banyak digemari pebisnis, ada beberapa kelemahan dari platform ini yakni :

  • persaingan yang ketat, dan
  • margin laba yang kecil.

Baca Juga : Apa itu Marketplace? Penjelasan Lengkap!

5. Dropship

Salah satu model bisnis atau usaha yang juga dilakukan online adalah dropship. Saat memakai dropship, Anda bukan hanya tak membutuhkan toko fisik. Namun juga dapat menjalankannya tanpa punya gudang.

Sebagai dropshipper, Anda jual produk pihak lain pada konsumen via toko online Anda. Sistem dropship berbeda dengan reseller. Di model dropship, supplier-lah yang mengirimkan barang langsung ke konsumen.

Artinya, tak ada aktivitas menyimpan barang yang harus Anda lakukan. Pendapatan seorang dropshipper berasal dari margin harga. Yaitu selisih keuntungan dari yang diberikan konsumen ke yang dibayarkan ke supplier.

Dropshipping merupakan model bisnis yang dapat Anda lakukan tanpa modal namun banyak pilihan produk. Tapi, margin keuntungannya relatif lebih kecil.

Baca Juga : Ide Bisnis Dropship yang Menguntungkan

6. Affiliasi

Model bisnis atau usaha afiliasi hampir mirip dropship, yakni menjual produk pihak lain. Bedanya, afiliasi lebih berperan dalam upaya promosi supaya konsumen mau beli produk tertentu. Dan, pendapatan affiliate berasal dari komisi penjualan produk.

Bila Anda jadi affiliate, Anda perlu bergabung ke salah satu program afiliasi lebih dahulu. Setelah bergabung, Anda cukup mempromosikan produk memakai kode dan banner khusus.

Langkah promosinya dapat Anda lakukan via blog atau media sosial. Tiap kali ada pembelian memakai kode yang dibagikan, Anda akan dapat komisi.

c. Berdasarkan Sumber Revenue

Inilah beberapa jenis model bisnis atau usaha dengan pendekatan cara menghasilkan laba yang berbeda. Apa saja?

1. Freemium

Anda pasti sudah dapat menebak bahwa freemium yaitu sebuah bisnis yang menawarkan layanan gratis sekaligus premium dalam satu produk. Jenis model bisnis atau usaha ini banyak ditemui pada bisnis online.

Salah satunya yaitu layanan penyimpanan berbasis cloud yang bernama DropBox. Pengguna dapat memakai DropBox Basic dengan kuota penyimpanan gratis sebesar 2GB yang dipakai sampai kapanpun.

Bila mau dapat storage lebih banyak dan fitur lebih lengkap, pengguna harus melakukan upgrade paket premium.

Baca Juga : Kiat Mudah Backup WordPress Menggunakan DropBox

2. Subscription

Model bisnis ini memperoleh penghasilan dari biaya berlangganan yang dibayarkan oleh konsumen, baik bulanan ataupun tahunan.

Hampir semua bisnis jasa bisa memakai model bisnis atau usaha ini. Namun yang paling populer yaitu bisnis edukasi dan bisnis hiburan yang diakses secara online. Contohnya, adalah Netflix.

Model bisnis ini cukup menguntungkan baik untuk konsumen maupun pebisnis.

  • Konsumen akan lebih tertarik untuk memakai layanan kapan saja dengan harga relatif terjangkau.
  • Pebisnis dapat memperoleh keuntungan yang terukur berdasarkan banyaknya konsumen yang dimiliki.

3. Hidden Revenue

Salah satu bisnis yang memakai model bisnis hidden revenue yaitu YouTube dari Google. Platform digital ini dapat dipakai gratis oleh konsumen sampai kapanpun. Peran pengguna tak terlalu diperhitungkan bagi perusahaan dalam upaya memperoleh keuntungan / laba.

Lantas, bagaimana YouTube dapat penghasilan? Jawabannya, dari iklan. Saat memakai YouTube, Anda akan disuguhi iklan dengan berbagai produk. Biaya pemasangan iklan inilah yang jadi revenue streamnya.

Mengapa banyak perusahaan mau pasang iklan di platform ini? Jumlah penggunanya sangat banyak dan tingkat pemakaiannya sangat tinggi. Jadi, dengan memasang iklan di YouTube maka akan memberikan keuntungan berupa eksposur yang lebih baik bagi bisnis.

d. Berdasarkan Strategi Harga

Model bisnis atau usaha berdasarkan strategi harganya terdapat dua jenis yaitu :

1. Razor Blade

Model bisnis ini memakai strategi di mana produk utama berharga murah, bahkan gratis. Tapi, produk pendukung berharga lebih tinggi dan dipakai untuk dapat laba. Model bisnis Razor Blade sering disebut sebagai bait and hook atau umpan-kail.

Model bisnis atau usaha ini memakai strategi lock-in. Yakni produk utama dan produk pendukung harus saling melengkapi satu sama lain. Hal ini berarti konsumen hanya dapat membeli produk pendukung dari produsen yang sama.

Jenis produk yang biasanya memakai strategi ini yaitu yang menerapkan sistem refill atau isi ulang. Contohnya :

  • alat cukur (Gillette),
  • printer (HP dan Canon),
  • kartu operator seluler (Telkomsel),
  • dll.

Semua produk utama ini dijual dengan harga standar. Tapi, pengguna diharuskan beli produk pendukung supaya bisa terus memakainya yakni pisau cukur, tinta, atau isi ulang pulsa.

2. Reverse Razor Blade

Inilah model bisnis atau usaha yang berlawan dari strategi razor blade. Reversed razor blade memberi harga produk utama yang cukup tinggi. Namun memberikan banyak keuntungan konsumen dalam memakai produk pendukung.

Contoh perusahaan yang memakai Reverse Razor Blade yaitu Apple. Beberapa produknya (seperti Macbook Air), dihargai cukup mahal untuk sekelas laptop dengan spesifikasi tertentu.

Tapi, pengguna dapat memakai produk pendukung seperti aplikasi email, maps, organizer dan lainnya tanpa mengeluarkan biaya lagi. Bahkan beberapa aplikasi dengan kualitas terbaik dapat ditambahkan dengan gratis via App Store.

3. Nickel and Dime

Model bisnis ini akan menjual suatu produk utama dengan harga yang terjangkau. Dan sekaligus menawarkan berbagai fitur tambahan. Pada akhirnya, biaya yang dibayarkan konsumen jauh lebih tinggi dari harga standar atau sesuai permintaan konsumen.

Jenis model bisnis atau usaha ini dapat diterapkan pada bisnis online ataupun offline. Contoh bisnis online yang memakai Nickel and Dime yaitu Salesforce (perusahaan pembuat software CRM).

Meskipun konsumen dapat memakai software Salesforce dengan baik. Untuk menunjang pekerjaan dibutuhkan beberapa integrasi dengan aplikasi pihak ketiga lainnya.

Anda dapat saja menerapkan model bisnis ini pada bisnis kuliner. Misalnya, Anda berjualan nasi goreng standar. Lantas, Anda dapat menawarkan berbagai topping yang menarik. Seperti sosis atau bakso untuk menu nasi goreng dengan harga tersendiri.

e. Berdasarkan Interaksi dengan Konsumen

Berikut ini beberapa jenis model bisnis atau usaha terkait dengan interaksinya dengan konsumen :

1. High Touch

Jenis model bisnis ini membutuhkan banyak interaksi dengan konsumen dalam aktivitasnya. Artinya, saat menjalankan bisnis ini, resource sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan cukup besar.

Bahkan, peran SDM cukup besar dalam membuat bisnis berkembang untuk jangka panjang. Contoh dari model bisnis ini yaitu salon kecantikan dan jasa konsultasi.

Untuk bisa membangun bisnis high touch dengan baik, pastikan Anda punya SDM yang berkualitas supaya bisa memberikan hasil terbaik. Dengan demikian, akan membuat konsumen puas. Sehingga kepercayaan terhadap bisnis dapat dibangun dengan baik.

2. Low Touch

Berbeda dengan high touch, low touch justru mengembangkan model bisnis yang tak begitu banyak memerlukan interaksi dengan konsumen. Artinya, baik dalam tahapan penjualan ataupun pemakaian produk, dapat dilakukan sendiri oleh konsumen.

Hal ini dilakukan dengan berbagai pendekatan otomasi memakai kecanggihan teknologi. Salah satu contoh model bisnis atau usaha yang memakai pendekatan ini yaitu Survey Monkey (penyedia platform survey online).

Dengan platform yang intuitif, tak terlalu susah bagi konsumen untuk  membuat sendiri survey sesuai yang mereka butuhkan. Layanan tersebut bersifat freemium dengan batasan jumlah pertanyaan dan response tertentu.

Tapi, untuk kebutuhan tingkat lanjut, konsumen cukup memakai paket premium. Yaitu dengan jumlah pertanyaan dan response unlimited dan fitur tambahan seperti A/B testing.

f. Berdasarkan Strategi Produk

Berikut ini beberapa model bisnis atau usaha yang menggunakan strategi produk :

1. Blue Ocean Strategy

Blue Ocean merupakan model bisnis yang menciptakan produk baru dengan pendekatan market yang berbeda. Tujuannya adalah untuk :

  • menghindari persaingan yang tajam, dan
  • merangsang hadirnya pasar baru dengan biaya pemasaran (marketing) yang rendah.

Contoh dari model bisnis ini yaitu Nintendo Wii. Alih-alih berkompetisi dengan pesaing seperti Microsoft Xbox dan Sony Playstation, Nintendo malah membuat Wii untuk pangsa pasar non-gamers.

Artinya, produk ini memang diciptakan untuk pengguna casual. Yaitu pengguna yang lebih mementingkan keseruan bermain game daripada pencapaian level layaknya game enthusiast.

2. Renting Business

Model bisnis atau usaha ini sebenarnya tak asing bagi Anda. Tapi, Anda tentu baru menyadari bahwa bisnis rental dapat dipakai untuk lingkup jenis bisnis yang lebih luas. Tak hanya berupa barang namun juga jasa. Dan, tak hanya secara offline namun juga online.

Salah satu platform yang memakai renting business yaitu Spotify (layanan musik streaming). Alih-alih membeli musik secara langsung baik via CD ataupun streaming, Spotify memungkinkan Anda mendengar banyak koleksi lagu dengan sistem berlangganan.

3. Peer-to-Peer

Model bisnis peer to peer didasari pada sebuah kemitraan memakai platform tertentu. Yaitu platform yang mempertemukan supply dan demand. Artinya, kebutuhan konsumen akan dipenuhi oleh pihak lain dengan memakai pihak ketiga.

Salah satu contoh model bisnis atau usaha peer to peer yaitu Gojek dan AirBnb. Pada dasarnya, Gojek tak punya armada transportasi yang dipakai. Dan hotel yang dimuat di website AirBnb bukanlah punya platform tersebut.

Gojek dan AirBnb hanya menyediakan platform (aplikasi / website) yang memfasilitasi pemenuhan kebutuhan para konsumen. Dan mendapatkan penghasilan dari komisi per transaksi yang terjadi.

4. Social Entrepreneurship

Jenis model bisnis atau usaha ini sering disebut juga sebagai one-for-one. Artinya, bisnis tersebut akan menyumbangkan satu produk ke orang yang memerlukan atas tiap satu penjualan produk yang berhasil.

Model bisnis social entrepreneurship merupakan perpaduan dari pendekatan bisnis yang bersifat profit dan nonprofit. Jadi, memperoleh laba sambil membangun kesadaran sosial untuk berbagi. Contoh dari bisnis ini yaitu Toms Shoes.

Strategi mereka untuk :

  • Menyumbang sepatu pada anak yang memerlukan dari penjualan produk.
  • Membuat konsumen tidak segan untuk ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Tidak jarang, banyak yang jadi pelanggan setia.

g. Berdasarkan Kemitraannya

Inilah berbagai model bisnis atau usaha dikelompokkan berdasar kemitraan yang dilakukan :

1. Business to Business (B2B)

Sesuai namanya, B2B yaitu model bisnis yang dibangun dengan kemitraan dengan pebisnis lain. Artinya, transaksi pembelian dilakukan antar pebisnis seperti :

  • perusahaan manufaktur dengan distributor,
  • distributor dengan retailer,
  • dst.

Salah satu contoh model bisnis B2B yaitu antara Samsung dengan Apple. Meskipun sama-sama bergerak di bisnis gadget, Samsung banyak menjual berbagai produk yang dipakai Apple untuk membuat iPhone.

2. Business to Consumer (B2C)

Di dalam model bisnis B2C, pebisnis menjual produk mereka pada konsumen akhir. Contoh model bisnis atau usaha yang paling sering kita temui yaitu bisnis kuliner. Di mana penjual akan langsung menjual produk pada konsumennya.

Pada perkembangannya, B2C menjangkau lebih banyak jenis bisnis dan bisa dilakukan secara online. Terutama dengan banyaknya toko online (online shop) yang menjual berbagai kebutuhan konsumen.

3. Consumer to Business (C2B)

Model bisnis C2B akan memungkinkan konsumen untuk menjual produk pada pebisnis. Tentu saja yang dimaksud tak hanya berupa barang ataupun jasa namun dapat berupa :

  • data,
  • partisipasi, dan
  • bantuan promosi.

Salah satu contoh model bisnis atau usaha ini yaitu penjualan produk digital via situs microstock. Di mana pemilik foto dapat mengupload hasil karyanya untuk dijual via situs seperti istockphoto dan lainnya.

Tak hanya itu, C2B pun dapat ditemui pada waktu pengguna internet melakukan survey berbayar. Di mana survey ini dilakukan oleh sebuah situs survey online.

4. Consumer to Consumer (C2C)

Model bisnis C2C akan menciptakan transaksi penjualan produk dari konsumen ke konsumen. Lazimnya hal ini dilakukan dalam sebuah platform khusus yang dipakai bersama.

Salah satu contoh model bisnis atau usaha C2C yaitu jual beli online yang dilakukan di OLX. Penjual memasang foto produk di platform model C2C untuk menarik pembeli. Dan semua transaksi dapat dilakukan tanpa melibatkan pihak ketiga.

h. Model Bisnis Lainnya

Berikut berbagai model bisnis atau usaha lainnya :

1. MLM (Multi Level Marketing)

Model bisnis atau usaha ini memanfaatkan jaringan konsumen untuk menjual produk. Laba atau income yang dihasilkan berasal dari sistem komisi yang diterapkan platform MLM yang diikuti.

Model bisnis ini memakai struktur piramida jaringan. Anda akan memperoleh pendapatan ketika sukses menjual produk dan ketika downline Anda pun sukses menjual produk. Downline yaitu orang sukses Anda rekrut untuk sama-sama menjual produk.

Sebagian besar bisnis MLM saat ini dilakukan dengan sistem penjualan langsung ke konsumen. Salah satu contoh bisnis yang memakainya yaitu bisnis Synergy WorldWide dan MSI.

2. Crowdsourcing

Crowdsourcing merupakan sebuah model bisnis yang memakai partisipasi banyak pengguna internet (crowd) untuk menghasilkan produk yang bisa dijual kembali.

Umumnya, pebisnis membayar jasa dari peserta crowdsourcing atas sebuah pekerjaan sederhana yang dilakukan dalam jumlah banyak.

Salah satu perusahaan yang memakai model crowdsourcing dalam bisnis yaitu 2Captcha. Bisnis ini menyediakan layanan keamanan online captcha bagi perusahaan yang memerlukan verifikasi manusia (human verification).

3. Agency

Agency merupakan sebuah model bisnis atau usaha yang menyediakan jasa pengerjaan suatu proyek khusus untuk jangka waktu tertentu. Kekuatan dari jenis model ini yaitu keahlian dan pengalaman atas 1 jenis pekerjaan.

Berbeda dengan bisnis jasa lain, pekerjaan yang dilakukan oleh agency bersifat khusus per klien. Biasanya perusahaan memakai jasa agency untuk menyelesaikan pekerjaan pendukung yang tak bisa dikerjakan sendiri.

Jenis pekerjaan yang memerlukan jasa agency antara lain :

  • pembuatan website,
  • content marketing,
  • advertising,
  • dan lainnya.

Contoh perusahaan agency yaitu :

  • Brafton,
  • Chubby Rawit,
  • dll.

Baca Juga : Hal Penting untuk Memulai Jasa Pembuatan Website

Model Bisnis atau Usaha Apa yang Akan Anda Gunakan?

Banyak juga jenis model bisnis yang dapat Anda pilih dan Anda gunakan? Penjelasan model bisnis di atas sudah cukup lengkap sebagai bahan pertimbangan untuk menjalankan bisnis Anda.

Menariknya, sebuah bisnis bisa memakai lebih dari satu model. Hal ini seiring dengan perubahan pasar dan strategi bisnis yang berbeda.

Mengingat pentingnya memakai model bisnis, Anda harus menggunakan untuk memulai usaha. Dan, karena tiap bisnis berbeda, sesuaikan dengan kondisi yang Anda hadapi. Baik pada saat membuat kanvas model bisnis ataupun ketika menentukan jenisnya.

Ingin model bisnis atau usaha yang Anda pilih dapat berjalan dengan baik? Jangan lupa untuk membaca artikel Panduan Kiat Sukses Bisnis Online yang ada di website ini.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

WeCreativez WhatsApp Support
Soleh Agus
Hai 👋 Ada yang bisa kami bantu?