Program Smart Detox
Daftar Synergy WGabung bersama bisnis Synergy WorldWide

Berburu Vitamin D saat Pandemi

Ramai-ramai berburu vitamin D, ada apa? Akhir-akhir ini vitamin D, hangat dibicarakan. Hal ini terkait peranan vitamin D didalam sistem kekebalan (sel T) tubuh, terutama ketika pandemi Covid-19. Ilmuwan di University of Copenhagen sudah menemukan keterkaitan vitamin D dengan sel T. Di mana vitamin D sangat penting untuk mengaktifkan sistem kekebalan tubuh. Tanpa kecukupan akan asupan vitamin D, sel-sel pembunuh dari sistem kekebalan tak akan bisa bereaksi. Dan juga tak bisa melawan infeksi serius dalam tubuh.

Berburu Vitamin D

Berburu Vitamin D saat Pandemi

Supaya sel T bisa mendeteksi dan membunuh patogen asing, sel tersebut harus dipicu lebih dulu. Lalu sel tersebut ditransformasikan dari yang tak aktif dan berbahaya jadi sel pembunuh. Sel pembunuh inilah yang siap untuk mencari dan menghancurkan semua penyerang. Patogen asing ini seperti bakteri dan virus.

Para peneliti menemukan bahwa sistem kekebalan / sel T dalam proses pengaktifannya bergantung pada vitamin D. Maka tubuh akan rentan bila kekurangan vitamin D dalam darah. Seorang Profesor mengatakan mengenai saat sel T berhadapan dengan patogen asing. Di mana sel T tersebut akan mengulurkan perangkat sinyal atau antena. Perangkat tersebut biasa dikenal sebagai reseptor vitamin D. Reseptor tersebutlah yang akan mencari vitamin D.

Ini berarti bahwa sel T harus punya vitamin D atau pengaktifan sistem kekebalan akan berhenti. Sel T tak akan aktif bahkan mulai memobilisasi pun tidak, bila tak bisa menemukan cukup vitamin D dalam darah. Oleh sebab itu berburu vitamin D banyak dilakukan ketika pandemi seperti saat ini.

Kecukupan Vitamin D

Dan pertanyaannya adalah sudah cukupkah vitamin D Anda saat ini? Vitamin D sejatinya mudah diperoleh dengan cara berjemur di bawah sinar matahari, cukup 15 menit saja tanpa tabir surya. Namun pada kenyataannya kita yang hidup di negara tropis malah banyak yang kekurangan vitamin D.

Penelitian terbitan Asian Journal of Clinical Nutrition, menyebutkan hampir 300 sampel perempuan dari Sumatera Utara (Sumut) diteliti. Hasilnya menunjukkan 122 orang statusnya defisiensi dan 158 sampel insufisiensi. Hanya terdapat 12 subjek yang punya kadar vitamin D sufisien. Namun tak satupun yang nilainya normal untuk standar negara tropis.

Selain penelitian di atas ada penelitian lain yaitu di Jakarta. Analisis di sebuah klinik bersalin di Jakarta (2016), dari 143 sampel perempuan, sebanyak 90,2 persennya mengalami defisiensi vitamin D. Faktor penyebab defisiensi (kekurangan) vitamin D di negara tropis, antara lain :

  • aktivitas lebih banyak dilakukan di ruangan,
  • pemakaian penutup kepala (jilbab), dan
  • tabir surya.

Seiring kondisi sekarang yang kegiatannya banyak #dirumahaja, bisa jadi masalah kekurangan vitamin D bertambah lagi. Kecukupan gizi yang disarankan untuk vitamin D yaitu 600 IU (atau 15 mcg) tiap hari untuk orang dewasa hingga usia 70 tahun. Untuk memenuhinya, kita dapat berburu vitamin D dengan berjemur diri. Atau bisa juga dibantu dengan mengonsumsi NutriBurst Synergy yang dalam 1 sajiannya (2 scoop) mengandung vitamin D3 sebanyak 506 IU.

Sekian info terkait dengan Berburu Vitamin D saat pandemi, semoga postingan kali ini berguna untuk kalian. Kami berharap artikel terkait vitamin D ini dibagikan agar semakin banyak yang mendapat manfaat.

Referensi:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.